Kamis, 18 November 2010

pada jam 08.00 Wib, seorang ibu yang berusaia 35 tahun menganyam tikar disebuah desa kuala Selakau di kecamatan Selakau Kalimatan Barat,1  tikar yg dibuat oleh ibu ini memakan waktu 3-4 hari, hasilnya dikumpulkan untuk dijual ke sebuah toko dipasar tak jauh dari rumah nya, para pedagang tikar mengambil satu buah ikar seharga Rp. 75.000,00,  untuk menghidupi 3 orang anak, yang masing2 anaknya masih sekolah di tingkat dasar,   

pecahan bom

gambar ini diambil pada tanggal 28 agustus 2010, di pantai sebabu, kota singkawang kalimntan barat,
disini adalah tempatnya para nelayan berlabuh, setelah mengarungi lautan yang luas untuk mencari ikan

pantai sebabu

salah satu obyek wisata yg terletak di kota singkawang adalah pantai sebabu.
 lokasi ini tidak dikembangkan oleh pemerintah. makanya pantai ini kurang terawat. pantai ini hanya digunakan sebagai tempat peristirahatan perahu perahu nelayan yang bertempat tinggal dilokasi sekitar pantai.

BATU MENGHIDUPIKU

dini hari baru berlalu satu jam dan dinginnya angin berhembus di kaki bukit Singkawang,Kalimantan barat, namun tidak menyurutkan langkah pak tua pemecah batu.

memecah batu yang besar adalah tujuan bapak ini. Hawa dingin, beratnya medan perjalanan,tidak menjadi hambatan bagi laki-laki penopang keluarga. Setapak demi setapak, mereka menuju dan menuruni tebing Bukit singkawang demi menghidupi keluarga.

Meski para pemukul batu tidak pernah belajar ilmu geologi, mereka tahu kapan harus mengayunkan linggisnya ke tebing-tebing. Para penggali harus menunggu cuaca yang baik untuk menurunkan batu yang sangat besar agar tidak tertimpa tanah yang meyelimuti batu. Berkejaran dengan waktu, mereka harus segera mengayunkan linggis

Dalam sehari, dalam sehari bapak ini dapat memecah batu 1-2 kubik batu. Mereka mendapatkan upah Rp20.000,00 per kubiknya.

Jadi jangan heran jika melihat kulit punggung yang berwarna coklat kehitaman dan lecet. Namun kerja keras mereka menjadi pemandangan menarik dan kekhasan dari tebing bukit singkawang.