Selasa, 14 Desember 2010

Nyaris Punah


Siang hari berselang di sebuah gubuk tua yang hidup seorang pasangan separuh baya . yang mewarisi boneka-boneka wayang gantung Singkawang itu.
Salah satu harapan masyarakat singkawang melihat boneka wayang gantung Singkawang,. Di gubuk tua itu, dalam kotak kayunya, boneka-boneka wayang gantung pernah disembunyikan selama 30 tahun karena rezim Orde Baru mengebiri kebudayaan Tionghoa.

Wayang gantung adalah seni pertunjukan yang menggunakan boneka biasanya pertunjukan wayang gantung untuk menyampaikan pesan pesan kepada masyarakat, wayang gantung ini selalu menceritakan tentang kegagahan dan keberanian seorang kaisar, panglima perang dan sebagainya.
Wayang gantung berasal dari china daratan “Wayang gantung dibawa ke Singkawang dari China daratan pada tahun 1929. Pertama kali dibawa, A Jong. Di Desa Lirang, Singkawang selatan, selain wayang gantung perkumpulan ini juga dilengkapi dengan seni musik “pat jim phan” (music 8 dewa).
Bila main di toapekong, pada perayaan ulang tahun dewa atau panglima perang, biasanya tuan rumah minta cerita klasik. Sebaliknya, di ulang tahun perkumpulan tertentu disajikan cerita yang “ringan” sesuai dengan keseharian.
Kini, sesuai dengan permintaan, cerita dimodifikasi. Kisah kehidupan rumah tangga maupun percintaan berlatar lokasi di Singkawang dinilai mengena. Ini mirip kesenian wayang kulit; agar menarik penonton, mengadopsi campur sari. Wayang gantung pun terkadang menampilkan biduanita yang membawakan lagu-lagu mandarin.
Modifikasi cerita wayang gantung sesungguhnya mereduksi makna positif berbagai kisah. Sebab, kisah China klasik mengandung nilai-nilai Taoisme, falsafah Konfusisme-yang dikenal sebagai nilai kebijaksanaan. Modifikasi apalagi kematian wayang gantung dapat menyebabkan “terlepasnya” generasi muda Tionghoa dari ajaran yang arif.
Alasan utama generasi muda tidak lagi suka wayang gantung adalah budaya pop China daratan maupun Hongkong dianggap lebih keren. Tekanan rezim Orde Baru selama 30-an tahun pun diperkirakan telah mengalienasi budaya itu dari kaumnya. Kaum muda Singkawang yang lahir pada tahun 1980-an tidak lagi akrab dengan wayang gantung.
Saat ini memang terjadi reformasi budaya China di seluruh Kalimantan Barat, tetapi motor penggeraknya orang-orang tua yang mapan. Ada berbagai motivasi. Ada yang tulus, ada pula sekadar menunjukkan eksistensi di kalangan Tionghoa.
Wayang gantung dimainkan dengan bantuan benang. Ini berbeda dengan wayang kulit yang dimainkan dengan memegang kayu, wayang Po Te Hi yang dimainkan dengan sarung tangan, atau wayang golek yang dimainkan dengan memegang boneka wayang.
Tiada beda dengan dalang wayang kulit yang menggelar sesajen sebelum tampil, dalang wayang gantung pun merapal mantra China kuno terlebih dahulu, dibarengi dengan mengorbankan ayam jago. Jika lalai, dikhawatirkan-dan pernah terjadi-benang bisa kusut dan boneka sulit dikendalikan. Tak jarang pula dalang kerasukan roh “leluhur”.
Butuh waktu 5-6 bulan untuk mahir memainkan wayang gantung. Dalang juga perlu keahlian untuk adegan berkelahi dan barongsai. Sebab, perpindahan benang bukan saja dari tangan kanan ke tangan kiri, tetapi juga persilangan tangan antardua atau lebih dalang.
Umumnya wayang gantung dimainkan oleh dua hingga empat dalang. Meski demikian, satu pertunjukan membutuhkan 12-14 orang, termasuk pemusik dan pengatur permainan.
Yang lebih memprihatinkan, hingga kini belum ada penelitian Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak tentang wayang gantung Singkawang. Buku Peta Wayang di Indonesia (1993) dan Direktori Seni Pertunjukan Tradisional (1998/1999) keluaran Departemen Pariwisata juga tidak mencantumkan budaya wayang gantung itu. 

Kamis, 18 November 2010

pada jam 08.00 Wib, seorang ibu yang berusaia 35 tahun menganyam tikar disebuah desa kuala Selakau di kecamatan Selakau Kalimatan Barat,1  tikar yg dibuat oleh ibu ini memakan waktu 3-4 hari, hasilnya dikumpulkan untuk dijual ke sebuah toko dipasar tak jauh dari rumah nya, para pedagang tikar mengambil satu buah ikar seharga Rp. 75.000,00,  untuk menghidupi 3 orang anak, yang masing2 anaknya masih sekolah di tingkat dasar,   

pecahan bom

gambar ini diambil pada tanggal 28 agustus 2010, di pantai sebabu, kota singkawang kalimntan barat,
disini adalah tempatnya para nelayan berlabuh, setelah mengarungi lautan yang luas untuk mencari ikan

pantai sebabu

salah satu obyek wisata yg terletak di kota singkawang adalah pantai sebabu.
 lokasi ini tidak dikembangkan oleh pemerintah. makanya pantai ini kurang terawat. pantai ini hanya digunakan sebagai tempat peristirahatan perahu perahu nelayan yang bertempat tinggal dilokasi sekitar pantai.

BATU MENGHIDUPIKU

dini hari baru berlalu satu jam dan dinginnya angin berhembus di kaki bukit Singkawang,Kalimantan barat, namun tidak menyurutkan langkah pak tua pemecah batu.

memecah batu yang besar adalah tujuan bapak ini. Hawa dingin, beratnya medan perjalanan,tidak menjadi hambatan bagi laki-laki penopang keluarga. Setapak demi setapak, mereka menuju dan menuruni tebing Bukit singkawang demi menghidupi keluarga.

Meski para pemukul batu tidak pernah belajar ilmu geologi, mereka tahu kapan harus mengayunkan linggisnya ke tebing-tebing. Para penggali harus menunggu cuaca yang baik untuk menurunkan batu yang sangat besar agar tidak tertimpa tanah yang meyelimuti batu. Berkejaran dengan waktu, mereka harus segera mengayunkan linggis

Dalam sehari, dalam sehari bapak ini dapat memecah batu 1-2 kubik batu. Mereka mendapatkan upah Rp20.000,00 per kubiknya.

Jadi jangan heran jika melihat kulit punggung yang berwarna coklat kehitaman dan lecet. Namun kerja keras mereka menjadi pemandangan menarik dan kekhasan dari tebing bukit singkawang.